Belajar Leadership di ESPRIEX 2018

Thank You! Ei Lab, You Rock!

Dua Puluh Satu

JombloBackpacker#2: 7 Wisata Solo Tak Kalah Menarique

Alan Turing: Pahlawan IT di Perang Dunia II

JombloBackpacker#1: Destinasi Yogyakarta Anti Mainstream

Belajar Leadership di ESPRIEX 2018

Proud of You,
My Self!

Masih nggak menyangka, tapi seperti inilah realitanya, pembaca yang budiman.

Nggak genap dua-bulan gue diberi amanah oleh dosen idola gue, Pak Brillyanes Sanawiri, S.AB., MBA, menjadi Project Officer, membantu beliau dalam mengorganize event tahunan Fakultas gue, ESPRIEX 2018 yang udah di tahun ke-5.

Gue inget banget betapa butuh waktu yang lumayan lama untuk mikir apa gue akan mengambil opportunity langka ini, yang belum tentu akan gue dapet di kesempatan lainnya. Gue memikirkan ini saat gue di Yogyakarta, pas magang mengisi liburan gue Januari bulan kemaren. Dengan modal pernah menjadi staf PDD di ESPRIEX tahun sebelumnya, dan juga gue pernah jadi panitia di Brawijaya Startup Action dan juga laboran di Ei Lab, gue merasa gue mampu untuk mengemas ESPRIEX karena setidaknya gue punya ilmu di penyelenggaraan event serupa.

Tapi,
Yang membuat gue takut diawal adalah karena gue nggak pernah sama sekali mengambil role penting dalam suatu kegiatan. Entah dalam sebuah organisasi, event, atau dalam kehidupan gue. Gue selalu memilih untuk menjadi yang biasa-biasa aja dan membantu di bidang yang gue rasa nggak terlalu melibatkan skill memimpin dan mengambil keputusan.


Setelah melakukan pertimbangan kesanggupan, apakah gue bisa untuk menghandle event se-ASEAN ini, bareng sama magang remote yang gue perpanjang sampe dua bulan (Februari-Maret), ikutan running project bareng temen dimana gue juga nggak megang role yang ecek-ecek, dan yang tetep nomor satu adalah kuliah gue yang makin tua malah makin banyak tugas dan presentasi setiap hari. Gue juga nggak lupa buat minta ijin ke mama untuk suatu keputusan penting ini, karena kalo (nantinya) bakal kepilih, gue juga yang bakalan jarang buat pulang ke rumah.

Oke, melakukan pertimbangan kesanggupan ini memang bagi sebagian orang akan terlihat 'ngapain sih, kan belum tentu keterima juga'. Tapi ya itulah gue. Gue nggak mau jalan dengan kalimat 'lihat aja ntar', karna gue harus menerima konsekuensi yang lebih besar kalo gue nggak se-nge-plan ini di awal.

Gue memantapkan diri untuk maju daftar di oprec Project Oficer ESPRIEX 2018 ini. Nyiapin CV dan beberapa jawaban interview serta plan gue untuk si ESPRIEX. Gue review kira-kira apa kekurangan ESPRIEX di tahun lalu, apa yang bisa gue perbaiki, bikin perubahan untuk tahun ini, dan juga meng-compare dengan event competition lainnya yang sekarang emang udah banyak banget menjamur.

Gue nggak expect apa-apa karna kandidat yang daftar PO selain gue, pernah jadi Ketua Pelaksana event nasional. Secara experience gue kalah telak sih. Bahkan buat mimpi-pun rasanya gue nggak pernah berani. Tapi ya, Allah mungkin berkehendak lain. Dia pengen kasih gue kesempatan untuk bisa sedikit mencicipi jadi seseorang yang memiliki tanggung jawab besar dalam hidup.

Gue langsung memilih beberapa tim inti yang gue percaya bisa kerja bareng mereka dan juga udah punya pengalaman yang nggak cuma isapan jempol. Gue cuma punya waktu untuk nyari tim nggak sampe seminggu supaya bisa secepatnya open submission buat peserta. Tapi ya emang perencana terbaik adalah Allah, mungkin memang belum diijinkan untuk open sesuai yang gue atur. Akhirnya jadilah di tanggal 5 Maret 2018 baru bisa buka karena ada kendala teknis di Web-nya.

Waktu open submission yang mepet banget (nggak genep sebulan) membuat gue dan tim jadi agak pesimis. Seminggu-dua minggu nggak ada satupun pemberitahuan yang mampir di email menginfokan kalo ada yang daftar. Sampe gue juga mengirimkan tim gue (Takecare Indonesia) untuk setidaknya ikutan nambah-nambah biar ada yang ngisi link pendaftaran. Buat penglaris lah istilahnya.

Beberapa minggu sebelum close submission, link masih terisi nggak nyampe 10 tim! Gila. Gue merasa dikejar number banget. Apalagi dari panitia dosen men-target peserta tahun ini setidaknya 50 tim. Oke.

Oke.

._.


ESPRIEX memang event tahunan dari Fakultas Ilmu Administasi, Universitas Brawijaya, yang panitianya kolaborasi antar tim dosen dan tim mahasiswa. Jadi untuk konsep acara, kami dari tim mahasiswa ngikut dari dosen. Ini agak susah sih. Karena kami nggak bisa bikin ritme sendiri dan harus bener-bener ngikut dari atasan dulu, baru bisa dikerjain. Banyak banget yang tiba-tiba berubah, tiba-tiba mengusahakan ini, tiba-tiba begitu. Tapi itulah yang memang menjadi challange yang nggak bakal gue lupain. Selain gue makin dikenal dosen-dosen, gue juga jadi belajar untuk bekerja secara profesional bareng mereka.

Gue juga harus bisa untuk menjadi leader dari 21 orang yang gue pilih dari sekian banyak yang daftar jadi panitia mahasiswa. Dari berbagai macam sifat dan pendekatan yang berbeda, gue harus bisa membuat mereka bisa ikut ritme kerja gue yang lumayan cepet, tanpa menimbulkan demot kerja.

Dan dengan gue yang orangnya perfeksionis, maaf yaa gengs, kalian jadi ku tuntut untuk bener-bener teliti dan make sure semuanya berjalan dengan teratur dan perfect seperti yang gue mau. Gue nggak bisa kalo nggak ngecek satu per satu, apakah ada yang kurang pas ato nggak sesuai, dan itu cenderung ke teknis. Gue nggak mau untuk menyuruh orang lain menyampaikan apa yang gue mau, harus gue sendiri yang bilang ke orang bersangkutan dan memastikan orang itu paham apa yang gue mau.

Maaf ya,
Bukannya gue nggak percaya akan kemampuan kalian. Gue percaya banget, kok. Mangkanya gue milih kalian menjadi bagian tim kecil ini!

Dan itu udah kebukti!
Kalian memang pilihan terbaik dari yang terbaik. Gue akan selalu inget sih gimana kita bisa kerjasama se-keren ini.

Terima kasih banget-banget-anget buat Vice gue, Wenning (Sekretaris) dan Vida (Bendahara). Makasih udah mau gue repotin. Ngurus surat, anggaran, proposal. Itu nggak mudah gengs!
Lovyu pokoknya.

Buat Manager Departemen!
Amel, Ekan, Jo!
You're rock!

Makasih Amelita yang bantuin the hole event.
Kamu ahlinya, Mel!
Maaf ya kalo sering nyuruh-nyuruh cepet, hehe. Kecepetan ya :"

Ekanan-Ekiri!
Sumpah ya. Nggak ada lagi dalam pikiranku yang bakal bisa menghandle Marketing Department seperti yang gue mau kalo nggak dirimu. Makasi udah bantuin publikasi acara, nyari medpar, bikin poster, desain-desain, sosmed maintenance, de-el-el. Maaf yaa, kalo sering bacot ngingetin di Line sama Instagram kalo belum post konten :"

Jonaaa!
Fast respon. Gue sukak!
Operation harus fast respon, dan itu ada di dirimuu.
Dan kalo nggak paham langsung nanyak biar nggak ada miskom.
Makasih yaa Jo.
Operation Departmen terbaiq sih, geelaa.

Staf-staf kuuu..
Anak-anakku sekalian, tercinta.

Fifi, Aul, Amara.
Maaf ya kalo akunya bawel.
Tiba-tiba chat jadwal mentor gimana, juri udah dihubungin belom, ppt Gamal kok ga dikirim-kirim.
Minta rundown aneh-aneh :"
Amara juga great jadi operator hari H-nya!

Oni, Isra, Rima, Widya, Ferry, Elvira.
Maaf ya kalo akunya lebih bawel lagi ke anak operation.
Pigura nambah-nambah, id card juga tiba-tiba nambah, pj konsum cuma satu orang aja.
Ngangkatin alat karawit dong Widyaa gela sih.
Vendor panggung juga dilempar-lempar, ya.
Pasti kalian pusing deh :"

Thalita, Navy, Farhan, Azmi, Giri, Sarah, Kaem.
Marketingkuuu..
Makasih ya udah bikin kayak yang aku mau.
Bantuin segalanya.
Email-in 1000 orang per hari tapi nggak ada yang bales. Wah.
Bikin desain yang revisi sampe 5x.
Makasih ya, ini juga bisa buat pembelajaran kok gimana kerja di dunia realita yang sesungguhnya. Bakal lebih capek lagi.

And last but not least,
Gue cuma pengen kalian punya semacam experience, pengalaman gimana kerja profesional dengan waktu yang singkat. Dengan tim yang lean. Karna ini emang realitanya di dunia kerja.
Gue amat-sangat merasakan ini ketika gue magang di Qiscus kemarin.
Mangkanya, gue pesen banget-banget buat kalian semua, untuk bisa setidaknya belajar. Ini semua bisa banget buat bekal kalian nantinya.
Bisa juga jadi value yang berbeda dari orang lain, temen-temen kalian, karena kalian udah punya kesempatan ini.

Semoga kita bisa bekerja sama di lain kesempatan yaa.
Lovyou all, gengs!

ESPRIEX 2018!
Mantab Betuls!!!

Thank You! Ei Lab, You Rock!

Selamat Malam, netizen blog gue yang budiman.

Kali ini gue lagi pengen banget cerita tentang Farewell Party yang sekaligus merupakan titik akhir gue untuk menjadi Pengurus Harian di Ei Lab periode 2017. Masih belum bisa move on dari apa yang selama ini gue dedikasikan buat Lab gue tercinta ini. Mulai dari jadi staf PDD di Brawijaya Startup Action 2015, Brawijaya Startup Action 2016, dan berkesempatan menjadi Head of Marketing Division di Brawijaya Startup Action 2017 yang baru selesai bulan Desember kemaren.

Nggak bisa gue pungkiri kalo Ei Lab sangat berjasa bagi karir desain-mendesain yang gue gelutin sampai saat ini. Dari yang gue nggak bisa desain sama sekali sampe menjadi gue yang punya usaha desain grafis sendiri buat sekedar nambah uang jajan buat beli sempol 500-an.

Mungkin sudah beberapa kali gue sebut dan cerita ke temen-temen kalo dari Ei Lab-lah kemampuan desain gue berkembang. Lab ini yang dengan  nekat percaya diri menerima gue menjadi staf PDD di BSA tahun pertama, sedangkan gue yang saat itu posisinya sedang dalam tahap belajar desain dan jelek banget dah pokoknya, penuh ke-tidak-estetikan, ditolakin pas ikutan daftar oprec kepanitiaan karna pengalaman yang minim.


Dengan kepercayaan yang diberikan, gue dengan penuh semangat belajar desain pake Corel Draw. Nggak cuma itu, gue belajar untuk bisa bersosialisasi dengan orang lain. Berhubung gue termasuk orang yang males banyak berhubungan sosial dengan orang, dengan ikut kepanitiaan kayak gini bisa jadi tempat menempa diri menjadi orang yang peduli dengan lingkungan dan orang lain.

Gue juga jadi banyak kenal dan ngobrol sama kating-kating terutama terkait perkuliahan karna notabene saat itu gue masih maba dan noob banget.

Gue belajar buat atur waktu karena selain kuliah gue harus nyisihin waktu buat ngurusin event dengan anggota tim yang sangan lean. Seinget gue cuma ada tiga orang di divisi PDD (Gue, Wenning, dan Mas Aldo selaku CO nya). Divisi yang lainnya juga dikit banget orangnya.

Meski gue saat itu (beberapa bulan setelah berakhirnya BSA 2015) ditolak pas ikutan daftar jadi pengurus harian Ei Lab periode 2016, gue tetep nggak bisa melupakan betapa baiknya lab ini. Karena selain apa yang diajarin disana itu bermanfaat banget (karena nggak diajarin di perkuliahan biasa), tapi lingkungannya juga positif. Dulu gue tahu diri aja sih bakal ditolak sama lab ini pas daftar jadi PH. Karna ya gue udah kepilih jadi pengurus di BEM dan RSC (Kepenulisan FIA) saat itu. Dan karena Ei Lab ini budaya kerjanya emang lean dan ngambil tim yang sedikit, ya otomatis mereka bakalan memilih PH yang fokus ke lab dan nggak sibuk dengan hal lain diluar sana.

Ya gue sadar terlalu menggebu-gebu sih dulu. Biasa, maba kan pengen nyobain apa aja kan ya. Eksplorasi berlebihan. Bakalan protol juga satu-satu seiring berjalannya waktu. Karna emang selain terikat jadi pengurus di BEM dan RSC, gue juga ikutan ekskul music FIA (AMC) sebagai player. Meskipun di AMC ini juga gue nggak berperan penting-penting banget sih.

Dulu gue berfikiran untuk menjadikan si ekskul musik sebagai pelarian kalo misal gue stres dengan kegiatan tetek-bengek kampus. Tapi nyatanya nggak ngefek-ngefek juga. Malah gue lebih tertarik buat melajarin Business Model Canvas dan jadi tahu apa itu startup karna jadi panitia di BSA 2015. Meski saat itu masih belum terlalu booming istilah startup, dan gue merasa keren karna lebih tau duluan ketimbang temen-temen. HAHA.

Akhirnya, setelah satu tahun menjalani kehidupan keorganisasian, gue daftar lagi jadi staf PDD di Brawijaya Startup Action 2016. Mendedikasikan kemampuan gue untuk event yang kece ini lagi. Dan Alhamdulillah-nya, nggak ditolak buat kali ini.

Seiring berjalannya waktu, akhirnya sampe di awal tahun 2017 dan gue mulai menekadkan diri untuk nggak daftar apa-apa nungguin oprec Ei Lab aja. Entah bakalah diterima atau ditolak (lagi) gue pasrah aja sih. Diterima gue bakalan seneng banget. Kalo ditolak ya gue fokus ajalah jadi freelance desain grafis biar nggak gabut banget.

Dan dengan sangat bangga gue ketika melihat pengumuman dan mendapati nama gue muncul disana. Ini nggak lebay sih. Tapi emang prestise banget buat jadi salah satu dari 16 pengurus harian Lab terkece se-FIA ini.

Gimana nggak.
Bisa dong dibayangin gimana gue bisa kerja di ruangan penuh dengan Mac yang super canggih, fasilitas WiFi yang punya lab sendiri kencengnya sampe bikin pingsan, dan yang terpenting sih ilmu tentang BMC dan segala tentang per-startup-an. Networking disini juga gilak sih. Banyak kenalan sama orang-orang yang nge-built startup dan bisa dijadiin mentor kalo misalnya butuh konsultasi tentang bisnis rintisan. Kenal sama dosen-dosen yang keren banget ilmunya pokoknya  jempolan!

Tapi ya ternyata cepet aja semuanya berlalu, ya.
Gak terasa udah satu tahun aja gue menjabat jadi salah satu staf di Marketing & Co. Working Space Ei Lab.

Banyak banget.
Banyak banget yang gue pelajarin, yang gue dapet.
Nggak cuma tentang teori, tapi juga disini gue jadi berani untuk nyoba ikutan lomba (sampe akhirnya ketagihan).

Dapet challenges buat bisa kerja dengan lingkungan yang sangat dinamis dan tugas yang kadang dadakan. Jadi Head of Marketing dimana gue posisinya yang selalu jadi staf dan nggak bisa banget jadi pemimpin.

Dan yang saat ini masih terasa mimpi ya opportunity gue bisa jadi PO ESPRIEX 2018.
Gilak sih ini.
Gue nggak tahu kenapa gue bisa dengan beraninya daftar ikutan oprec PO sampe akhirnya jadi Project Officer acara gede se-ASEAN.

Gue nggak mengingkari hal ini nggak bisa terlepas dari gue yang pernah ditempa di Ei Lab. Dengan pengetahuan minim gue tentang startup, BMC, tim kerja yang lean, waktu yang singkat, semuanya bisa menjadi kekuatan gue untuk jadi Project Officer ESPRIEX 2018.

Udah sebersyukur itu gue jadi bagian Ei Lab, gue juga dikasih award jadi Best Staf di kepengurusan periode tahun 2017. Gue nggak tau mau ngomong apa selain terima kasih yang sebesar-besarnya-besar. Yang jelas gue mah selama satu tahun di Ei lab ini nggak pernah merasa tertekan dan ambis karena memang bener-bener enjoy dan melakukan semuanya atas dasar pengen belajar aja.

Sekali lagi makasih Ei Lab.
Makasih atas kesempatannya.
Makasih atas bimbingannya.
Makasih atas segala kepercayaan yang telah diberikan.
Semoga ada tidaknya Ei Lab di periode selanjutnya, bakal tetep memberikan insight positif buat orang-orang yang berada di lingkungan sekitarnya.

Laffff,
-Chiki

Dua Puluh Satu

Gilak.
Tiba-tiba udah ada angka satu aja ngekor di belakang angka dua.

Kalian ngerasa nggak sih sekarang kita cepet banget pindah hari. Tiba-tiba udah beda minggu, bulan. Kalender cepet banget bergulung ganti tahun. Dan paling berasa sih tiba-tiba aja gue udah 21 tahun. Padahal rasanya baru kemaren gue lahir.

6 Februari 2018,
Gue udah mulai bisa menerima sih gue udah masuk di masa umur "20-an". Mau nggak terima juga buat apa, kehidupan juga bakalan tetep jalan terus. Gue merasa berbeda karena makin tua, makin dewasa, makin banyak tanggung jawab yang harus gue lakuin. Bukan cuma tentang ego diri sendiri tapi juga buat orang lain: terutama keluarga.

Gue tiba-tiba keinget aja dulu pas kecil mama selalu masak nasi kuning dan ayam yang paling gue sukak! Masakannya bikin kangen :( Jadi pengen cepet minggu depan karena (InsyaAllah) gue pulang pas libur Imlek.

Gue mau cerita sebagai pengingat bahwa di umur dua-puluh-satu ini, gue punya beberapa temen yang menyempatkan diri menyisihkan waktunya buat surprise-in gue.

Malam ini gue pergi makan di Mie Setan Suhat sama temen-temen EiLab 2015. Gue nggak expect apa-apa sih, sampe ngebayangin bakal di kasih surprise sama siapapun. Udah diucapin selamat ulang tahun aja gue udah seneng banget. Tapi tiba-tiba mereka ternyata udah nyiapin itu. Ada Fifi, Wenning, Amel, Ekan, Dyandra, Rahmi. Ya mereka emang yang sering kumpul dan diskusi sama gue sih di perkuliahan. Dan ya mungkin mereka juga yang bakalan datang di sempro gue kedepannya.

Dan setelah gue pulang ke kosan-pun, masih ada surprise lagi dari SOME Fansclub: Irena & Tita. Temen makan gue, temen jalan, temen main, temen jomblo. Ya meski emang mereka nggak bisa menggantikan kehadiran keluarga, tapi setidaknya gue hidup di Malang yang ngebantuin ya mereka. Kalo gue sakit, gue butuh temen, gue males makan sendirian. Ya gue larinya ke mereka.


Tapi dari semua ucapan yang gue dapet dari temen-temen semua, gue mengucpkan banyak terimakasih. Udah ngasih doa baik yang banyak. Gue seneng banyak banget yang doain. Ya meskipun emang ini artinya umur gue berkurang satu tahun, but at least, gue bisa semakin semangat untuk bisa menjadi pribadi yang lebih baik lagi.

Semoga eksistensi gue di bumi tidak hanya berguna buat gue sendiri, tapi bisa bermanfaat buat orang lain minimal lingkaran pergaulan gue.


"Ya Allah, mudah-mudahan ini sederhana. Tetapkanlah pikiran kami selalu melangit, dan dengan hati yg terus membumi" -Pidi Baiq.

JombloBackpacker#2: 7 Wisata Solo Tak Kalah Menarique

Solo,
Mei, 2017.

Edisi petualangan kali ini gue tertarik untuk menjamah Kota Solo, Jawa Tengah.

Bertepatan dengan libur panjang karena ada Seleksi Masuk PTN (SBMPTN), gue ngajak Irena dan Tita buat melancong ke kota batik ini. Selain karna punya temen di Solo yang siap nampung kita buat nginep dan nganterin main, katanya disana juga banyak tempat wisata menarik yang bagus buat dikunjungi.

Kami bertiga tetep nyari transportasi yang paling murah, yaitu lewat Surabaya. Keretanya tetep sama kayak yang gue pake pergi ke Yogyakarta dulu, KA Logawa RP 74 Stasiun awal Surabaya Gubeng turun Stasiun Purwosari Solo. Kami bertiga berangkat dari titik kumpul kosan gue, abis sholat subuh langsung ngebut ke Stasiun Kota Baru Malang karna keretanya emang jamnya mepet.

Gue masih inget banget, gue nyampe duluan di stasiun, dianterin sama temen gue Yep, dan dengan dag-dig-dug nunggu dua anak yang lain masih dibelakang belum nyampe. Kereta udah mau berangkat dan bapak yang jaga check-in counter malah nambah drama. Katanya mau di tinggal gitu karna keretanya udah mau berangkat.

Singkat cerita kami udah di dalem kereta menuju Solo.

Karena saat itu kami dadakan pesen keretanya, kurang seminggu mau berangkat kayaknya. Jadi kursi kereta udah pada penuh dan kita nggak dapet tempat yang satu kursi. Jadinya kami mencar-mencar gitu beda gerbong. But it's no problem, sih.

Oh ya!
Dan masih seperti tips sebelumnya, kami bawa helm sendiri lagi. Hoho.


Destinasi 1: Panduan Suara di Pasar Malem Ngarsopuro dan Mbambung di Pura Mangkunegaran

Karena hari pertama nyampe Solo bertepatan hari Sabtu, dan Pasar Malem Ngarsopuro ini juga cuma buka pas malem Minggu doang, kami memutuskan untuk menjadikan ini sebagai kunjungan pertama.  Bentuknya standar pasar malem gitu. Banyak tenda-tenda pedagang yang jualan berbagai hiasan kayu, baju sampe makanan dan minuman juga ada disitu.

Dan ternyata disini ada sisi uniknya juga. Nggak sembarang penjual yang bisa jualan di pasar ini, cuma mereka yang terbukti punya KTP Surakarta aja yang bisa nyewa kios di pasar ini. Karna emang konsepnya menjual hasil kreasi warga Surakarta yang punya karakter unik serta berciri khas Surakarta gitu.

Disitu kami nggak sengaja ketemu sama salah satu temen SMA kami juga disana. Namanya Sekar. Dia aktif kegiatan paduan suara kampus gitu. Dan dia lagi ngamen disana buat galangan dana event.

Setelah jalan kaki menyusuri Pasar Malam Ngarsopuro, kami nemuin pelataran yang luas. Kalo nggak salah itu daerah Pura Mangkunegaran. Tempatnya lagi ditutup karena sudah malem lagi ada renovasi gitu katanya.

Disitu banyak banget orang yang tidur di rumput-rumputnya. Kayaknya para tunawisma pada tidur disitu deh. Alasnya pake karung-karung gitu. Dan banyak banget sampah disekitar situ.

Kami yang bingung mau kemana lagi akhirnya mbambung disitu sambil ngobrol tipis-tipis. Edisi kali ini ditemani sama Nisrina dan Fitria. Gue naik motor sendiri pinjem motornya Sugeng. Karna emang lagi nggak ada yang free, ya begitulah kiranya nasib saya.


Destinasi 2: Grojogan Sewu dan Taman Hollywood Balekambang 

Hari kedua!
Pagi-pagi kami bersiap untuk ke destinasi selanjutnya.
Karna menurut plan kita perginya bakal seharian dan banyak berinteraksi dengan air, gue memutuskan untuk pake baju santai berbahan kaos. Celananya juga gue pake pants kain supaya nggak berat dan ribet.

Perjalanan kali ini kami di guide-in Anggihat. Dimana mulai saat itu kami memanggilnya 'si mbah' karna dia memiliki sifat ke-embah-embah-an yang alamiah.

Diperjalanan, kami mapir warung langganannya buat sarapan. Sekalian juga melipir ke indomaret buat beli berbagai cemilan dan minuman buat bekal jalan-jalan nantinya.

Fact#1: 
Harga makanan dan minuman di Solo murah banget a-s-e-l-i-k!
Nggak usah diraguin lagi.
Rata-rata di Jawa Tengah harganya bukan main murahnya.
Gue aja kaget nemuin Es Milo harganya cuma RP 5.
Entah mbak yang jual-nya impor bubuk milo dari mana kok bisa dapet harga lebih murah daripada di Malang.

Tempat pertama yang kami datengin adalah Grojogan Sewu. Tempat parkirnya penuh banget karna maklum hari itu hari Minggu. Jadi banyak banget yang liburan kesitu.

Jarak tempat parkir sama gerbang masuk ke Air Terjunnya lumayan jauh. Jadi kami butuh waktu yang lumayan buat jalan kesana. Medannya lumayan naik gitu. Saranku sih pake alas kaki yang nyaman kalo kalian pergi kesana. Selain itu, bakalan banyak banget seribu anak tangga yang bakalan kalian lalui.

Fact#2: Yang bikin capek adalah letak air terjunnya dibawah. Otomatis pas balik kami harus naik tangga. Setelah capek-capek turun, gue nggak bisa bayangin gimana naikin tu tangga satu-satu pas balik. So, wisata ini emang nggak recomended sih kalo buat orang yang udah tua.

Setelah puas disana, kami melipir dulu ke mushola buat sholat ashar lalu melanjutkan perjalanan ke Taman Balekambang yang letaknya nggak jauh dari situ.

Tempatnya lebih kayak tempat bermain keluarga gitu, lebih ramah anak. Tapi nggak kalah seru juga buat yang muda bahkan dewasa. Setiap sudutnya keren. Disini semacam dibikin per lokasi ada temanya sendiri-sendiri dari beberapa negara dan konsepnya outdoor. Buat yang suka foto-foto dan nyari tempat yang instagramable, ini bisa dijadiin alternatif destinasi sih.


Destinasi 3: Grojogan Jumog dan Sunset di Candi yang 'Bocor'


Karna dirasa masih banyak waktu, kami memutuskan untuk ngelanjutin ke Air Terjun Jumog.

Harus hati-hati dan jangan tertipu sama google maps pas mau ke lokasi ini. Di maps nunjukin jalan yang salah karna ngasih tau rute yang lama. Lewatnya atas terus turun. Semacam Grojogan Sewu. Tapi jalur itu udah ditutup. Jadilah kami muter lagi untuk mencari jalan yang benar.

Dengan Rahmat Allah swt, kami terselamatkan dari hujan. Baru nyampe banget hujan turun dengan sangat derasnya. Kami neduh dulu di area mushola sekitar situ. Meski nggak bisa langsung jalan menikmati air terjun, kami bersyukur nggak basah kena hujan.

Sambil ngobrolin masa lalu yang sebenernya nggak perlu buat diomongin, kami beli cemilan cilok yang judul gerobaknya "SOME".

Inilah asal-usul nama grup LINE kami bertiga (read: gue, Irena dan Tita), "SOME FANSCLUB".

Oke ini nggak penting sih.
Tapi gue pengen ngingetin ke kalian semua. Kalo pas ada kesempatan ke Air Terjun Jumog, jangan lupa beli "SOME" itu, biar inget sama kami. HAHAHA.

Next...

Setelah menghabiskan dua-tiga jam lebih nunggu, akhirnya hujan udah mulai reda dan kami melanjutkan untuk mengintip Air Terjun Jumog ini.

Agak berbahaya sih kalo main ke air terjun setelah hujan turun. Volume airnya jadi banyak dan nakutin. Tapi setidaknya kami foto-foto disitu buat kenangan kalo pernah kesana. Nggak sih, biar ngeksis di Instagram aja. HAHA.

Dengan waktu yang singkat, kami akhirnya keluar dan berencana untuk melanjutkan ke Candi Sukuh dekat sini. Katanya sih kalo liat sunset disini bagus gitu.

Tapi ternyata keadaan berkata lain.
Ban belakang motor gue sama Irena bocor!
Jadilah kami nyari tambal ban deket situ dan ternyata nggak deket-deket-amat juga.

Kami lumayan lama nungguin bannya ditambal. Sambil ditemenin ngobrol sama bapak yang punya tambal ban --anaknya yang nambal bannya. Si Bapak asyik banget. Dia seneng cerita dan berbagi pengalaman dia. Katanya dulu pernah ada syuting Angling Dharma disitu. Terus si Bapak pernah ikut main jadi figuran dan dia seneng banget bukan main. Banyak banget ceritanya sampe gue bingung mau nyeritainnya gimana lagi.


Destinasi 4: 'Keroncongan' di Cafe Tiga Tjeret

Nyampe Solo kami langsung menuju Cafe Tiga Tjeret yang legendaris itu. Diiringi musik keroncong bapak-bapak dan ruangan yang dipenuhi lampu warna kuning, membuat suasana semakin hangat.

Tempatnya bagus. Pilihan macam makanannya banyak. Pilihan makanannya macem angkringan gitu. Ada berbagai nasi yang udah dibungkusin dan banyak banget pilihan lauk ditusuk-tusuk.
Untuk harganya masih standar kok.

Disini tempatnya emang enak buat nongkrong. Ngobrol-ngobrol sama temen lama nggak kerasa banget udah menghabiskan tiga jam duduk disana. Capeknya perjalan mendaki seribu tangga pun tiba-tiba ilang.


Destinasi 5: Keliling Kampus UNS Solo

Hari selanjutnya!
Kami berencana buat jogging pagi sambil ngelilingi UNS. Tapi memang rencana tinggal rencana. Kami kecapean dan kaki pada kram semua. Kami memutuskan untuk agak siangan aja kesananya. Sambil mikirin mau ke fakultas apa aja yang bagus buat foto.

Kami ke beberapa fakultas seperti kedokteran, hukum, ilmu sosial. Katanya ada spot bagus di pertanian. Tapi karna waktu itu nggak dapet parkir dan harus jalan jauh, jadinya kaminggak kesana. Sebagai gantinya kami foto di depan rektorat lalu memutuskan untuk nyari makan siang.


Destinasi 6: 'Njemur' di Benteng Vastenberg dan Indahnya Senja Majid Agung Kraton Surakarta

Sore harinya, kami merencanakan untuk wisata kota dan nyari oleh-oleh. Kami udah browsing-browsing dan memutuskan untuk ke beberapa tempat yang pengen kita datengin kayak: Benteng Vastenberg, Vihara Dhamma Sundara, Pasar Klewer, dll

Kami memutuskan untuk ke Pasar Klewer terlebih dahulu karna jam operasionalnya hampir habis. Beberapa toko pun terlihat bersiap-siap untuk ditutup.

Gue beli banyak gantungan kunci dan kaos buat keponakan. Udah jadi kebiasaan kalo misal lagi traveling ke luar kota, gue beliin dua-ponakan-ganteng kaos oleh-oleh khas kota tersebut. Selain itu, gue dapet tas leptop batik karna emang laptop gue lagi butuh banget tas karna udah mulai pecah beberapa bagian karna gue nggak punya tasnya.

Setelah itu kami lanjut ke Vihara Dhamma Sundara. Sempet kesulitan buat nyari di maps karna tempatnya yang nyempil. Dan setelah kami masuk pelatarannya, ternyata disana sedang ada ibadah gitu. Terus kami bingung mau ngapain. Nggak ada satpam, nggak ada loket masuk atau apa gitu. Soalnya di internet itu Vihara ini termasuk tempat wisata lho. Dan foto-fotonya juga bagus.

Dari kejauhan ada beberapa orang yang melambaikan tangan. Kami menganggapnya sebagai suruhan untuk segera pergi. Dan kami yang kebingungan akhirnya keluar sambil tetap kebingungan.

Setelah itu kami ke Benteng Vastenberg. Dan lagi-lagi nggak sesuai ekspektasi. Di internet keren banget gitu. Eh, ternyata kami disambut beberapa helai jemuran tukang di pagar bentengnya. Meski begitu kami tetap foto-foto disana sambil menghabiskan sore.

Maghrib telah tiba dan kami melaksanakan sholat di Masjid Agung Kraton Surakarta. Masjidnya tergolong unik. Gue baru nemu ini ada masjid yang warnanya biru muda. Biasanya kalo nggak hijau kan coklat gitu. Jadi kesannya terang dan enak gitu dilihat.

Dengan drama pencarian oleh-oleh bernama 'intip' yang tak kunjung usai, kami dari tadi menyusuri setiap titik di Kota Solo. Mulai dari Pasar Gede Barat, sepanjang jalan yang katanya jualan oleh-oleh, sampai entah kemana lagi gue lupa.

Fact#3: Dan yang tidak diduga-duga, ternyata kami menemukannya ditempat yang nggak kebayang. Kami waktu itu mau ke Toko Roti Orion dan dengan santainya ada bapak-bapak jualan intip yang sedang nongkrong di depan tokonya. Jadi, buat kalian yang nyari si 'intip' ini dan udah putus asa, coba ke Toko Roti Orion. Lebih tepatnya di depan tokonya. Hehe

Intip ini semacam jajanan dari beras ketan yang dikeringkan. Mirip kayak rengginang tapi rasanya lebih manis. Kadang ada juga yang ngasih beberapa gula merah sebagai penambah rasa manis. Ukurannya ada yang kecil ada yang gede. Harganya RP 10-an.


Destinasi 7: Selat Solo dan Serabi Notosuman Pengantar Pulang

Hari ketiga sekaligus hari terakhir. #Hiks
Kami sarapan dulu di Selat Solo Viens yang katanya enak banget dan ternyata emang bener. Harganya murah banget cuma RP 10 doang udah dapet daging. Isinya ada kentang wortel, selada, daging yang di guyur semacam kuah. Nulis ini aja gue jadi pengen makan lagi :")

Setelah dirasa kenyang, kami langsung ke tempat Serabi Notosuman yang legendaris itu. Harganya RP 2,5 per item dengan dua pilihan rasa coklat dan santan. Gue beli dua kotak dengan rasa campur.

Dan Serabi Notosuman menjadi pengantar kami pulang. Kali ini naik kereta api KA Logawa lagi jadi kami turun di Surabaya Gubeng. 

Ntah kenapa setiap main selalu berat untuk pergi pulang.
Mungkin karna bakalan kembali ke rutinitas harian yang bikin pusing. Tapi dengan sejenak beberapa hari meluangkan waktu untuk liburan, bisa men-charge lagi semangat dan menghilangkan stress dari rutinitas harian.

Dan gue juga bikin dokumentasinya dalam bentuk video juga. Boleh mampir kesini: Hihi



Semoga kalian punya kesempatan dan waktu untuk berlibur, ya. Khususnya ke Kota Solo!


Alan Turing: Pahlawan IT di Perang Dunia II


Alesan gue pengen nulis artikel ini sebenarnya muncul saat berlangsung kelas mata kuliah Sistem Informasi Manajemen semester lalu. Ketika Bapak dosen nanya ke temen-temen, "Ada yang tahu Alan Turing?" dan dari empat-puluh-mahasiswa yang ada di dalam kelas (seinget gue) cuma dua orang yang jawab tahu. Yaitu gue sama Gilar, yang gue tahu memang doi banyak banget pengetahuan umumnya.

Bukannya apa-apa, tapi kurasa tingkat kepedulian generasi muda terhadap sejarah emang kurang sih, yang gue tahu ya. Anak muda cenderung males untuk baca biografi seseorang karena dianggep ngebosenin.

Padahal, lebih dari itu, gue menyadari bahwa dari biografi dan cerita pengalaman yang pernah dialami seseorang, bagaimana dia menghadapi situasi yang dialami, apa keputusan yang dia ambil, dapat jadi pelajaran supaya kita nggak terjebak dalam keputusan yang sama (atau setidaknya bisa buat pembelajaran).

Kalian tahu nggak kenapa Soekarno bisa melakukan Revolusi?
Ya karena dia berani. Dan dia banyak baca buku –mangkanya dia cerdas. Satu lagi: dia suka sekali belajar sejarah.

Nangkep yang gue maksud nggak?

Gini,
Misal si A pernah ngalamin ditinggalin gebetan sebelum pacaran. Usut-punya-usut, ternyata gebetannya ternyata nggak suka cowok yang bertele-tele, nggak to the point. Nah cowok lain bisa belajar nih, kalo suatu saat mau ngedeketin cewek itu, doi jadi mengurangi probabilitas untuk salah karna udah tau dari pengalaman si A.
Itulah sebenarnya ilmu dasar kita menjadi seorang leader yang memang butuh untuk mengambil keputusan serta 'meramal' masa depan. Gue teringat dosen ganteng idola gue, Pak Ari Darmawan pernah ngomong gitu di kelas. HAHAHA

Balik lagi ke Alan Turing.
Mungkin bagi kalian yang tertarik sama kriptografi dan tema detektif, agen rahasia, hacking atau yang suka main kode-kodean sama gebetan, akan tertarik sama kisah hidup dia. Dan bagi yang lebih suka visual, akan sangat senang karena ceritanya di abadikan dalam sebuah film berjudul "The Imitation Game". Apalagi yang berperan jadi Alan Turing si Benedict Cumberbatch, idola gue:").

Film adaptasi sejarah Perang Dunia II yang  dapet 7 nominasi dan 1 piala Oscar ini mengisahkan sepenggal kehidupan Alan Turing, seorang pahlawan Perang Dunia yang namanya sempat disamarkan dalam sejarah, sekaligus bapak dari computer science dan artificial intelligence alias AI.




Di tulisan ini gue sebisa mungkin mau nyeritain siapa si Alan Turing ini dan bisa menjadi salah satu pengetahuan baru buat kalian semua. Terlepas dari itu, gue sadar bahwa nggak mungkin untuk merangkum seluruh kehidupan seseorang, apalagi seorang Alan Turing, hanya dalam sebuah artikel. Untuk itu, gue harap kalian yang baca maklum kalo ada banyak kisah yang nggak sempat diceritain/kelewatan.

Di tulisan ini, tujuan gue sebenarnya adalah untuk mengenalkan kembali sosok Alan Turing di kalangan para muda-mudi, temen-temen sekalian, agar dia bisa kembali jadi tokoh yang menginspirasi kita dalam kehidupan kita sebagai pribadi, sebagai intelektual muda, dan sebagai calon penggerak roda negeri ini di masa depan. Terlepas dari kontroversi yang ada dalam hidupnya.

Masa Kecil-Remaja (1912 - 1930)

Alan Mathison Turing, atau biasa dikenal Alan Turing, dilahirkan di London pada tanggal 23 Juni 1912. Ia merupakan anak kedua dari pasangan Julius Mathison Turing dan Ethel Sara Stoney, dan  memiliki seorang kakak laki-laki bernama John. F Turing.

Ayahnya bekerja sebagai pegawai pelayanan sipil di India ketika India masih dalam penjajahan Inggris. Ibunya sendiri merupakan anak dari pegawai kereta api. Ketika mengandung Alan Turing, orang tuanya menghendaki agar Alan Turing lahir di Inggris oleh karena itu mereka kemudian kembali ke Inggris.

Saat Turing berusia enam tahun, dia masuk ke sekolah dasar St. Michael dan di sekolah itu dia mulai menunjukan kejeniusannya dan membuat kepala sekolahnya kagum. Bahkan, saat usia remaja, ia sudah banyak membaca karya-karya dari Albert Einstein dan akhirnya memutuskan minatnya dibidang Matematika dan Sains.

Tahun 1926, Turing kemudian masuk di Sherbone School. Dia memasuki form 6 di Sherborne dan berteman baik sama Christopher Morcom, anak berbakat lainnya yang juga menyukai Matematika dan Sains. Di filmnya, dikisahin si Alan memang ada-sedikit-hubungan-lain sama si Christopher ini. Mungkin semacam bromance tapi kelewat batas. Karna si Alan kelihatan sangat introvert dan emang nggak punya temen selain si Christopher ini.

Tapi sedihnya, waktu mereka berdua mendaftar ke Universitas, Christopher tiba-tiba meninggal dunia. Si Alan galau banget karena emang Christopher satu-satunya temen yang dia punya. Sangking deketnya mereka berdua, mereka sampe punya sandi rahasia sendiri kalo ngobrol. Mereka sering surat-suratan via kertas pas lagi kelas dengan sandi yang mereka punya itu. Jadi kadang pas ketauan guru dia lagi ngobrolin apa, nggak bakal kena marah dan dihukum.


Masa Muda dan Berperan Penting di Perang Dunia II (1931 - 1950)

Lulus dari Sherbone School, Alan Turing kemudian melanjutkan pendidikannya dengan kuliah di Cambridge University di jurusan Matematika dimana ia terpengaruh tulisan Von Neumann, Russell dan Whitehead mengenai Matematika dan Sains. Alan menjadi sangat tertarik dengan karya Albert Einstein dan mampu mengembangkan pekerjaan yang dilakukan oleh Einstein berdasarkan sebuah pertanyaan tentang Hukum Gerak Newton.

Dan di tahun 1930, Alan Turing berhasil membuat sebuah mesin bernama 'Turing Machine' atau Mesin Turing yaitu sebuah mesin yang dapat menjalankan sekumpulan perintah sederhana yang kemudian menjadi cikal bakal dari komputer modern saat ini.

Dikutip dari buku The History of Psychology karya George Boerre, mesin buatan Turing ini merupakan sebuah alat yang mampu mengubah dan memanipulasi basic simbol abstrak. Mesinnya ini dalemnya ada pita yang bisa buat baca dan nulis simbol di pita mesinnya, dan juga pitanya bisa dijadiin tempat penyimpanan. Tapi, lebih dari itu, Mesin Turing ini nggak terbatas pada operasi push dan pop ketika mengakses media penyimpanannya, dia juga nyiptain konsep-konsep ilmu komputer walaupun ketika itu masih belum dikenal.

Di tahun 1934, Alan Turing lulus dari Cambridge University dan berkat kecerdasan dan juga prestasinya, ia kemudian dapet beasiswa dari Universitas Princeton di Amerika Serikat untuk menempuh gelar doktornnya dan berhasil menyelesaikannya di tahun 1936.

Setelah selesai menempuh pendidikannya, Alan Turing kemudian kembali ke Inggris dan bekerja di Departemen Komunikasi Britania Raya. Ketika Perang Dunia II berkecamuk tahun 1939 hingga 1945, ia ditugaskan untuk memecahkan informasi yang terdapat di mesin Enigma (Mesin Enkripsi) buatan Nazi Jerman.

Nggak butuh waktu lama, Turing berhasil memecahkan kode-kode yang ada dalam mesin Enigma dengan membuat sebuah mesin pemecah kode (code breaker) Enigma yang diberi nama 'The Bombe' yang di ciptakan pada tahun 1939. Di film-nya mesinnya dinamain 'Cristopher'. Mungkin biar ada sedikit sentuhan dramanya kali ya. Mesin inilah yang kemudian jadi pioner awal menuju era komputer digital.

Adanya mesin pemecah kode yang Turing buat ini sangat berdampak bagi berlangsungnya Perang Dunia II. The Bombe memainkan peran penting dalam menguraikan pesan yang dienkripsi oleh mesin Enigma Jerman. Mesin ini berhasil menterjemahkan pesan berisi data intelijen penting bagi Sekutu sehingga dapat mengetahui pesan rahasia yang diberikan setiap hari. Berkat temuannya, Turing berhasil memperpendek usia Perang Dunia II selama dua tahun dan menyelamatkan lebih banyak nyawa dari siapa pun di Perang Dunia II ini.
Jasanya yang sangat besar bagi negaranya membuat ia kemudian dianugerahi OBE sebagai pahlawan perang.

Usai perang dunia, Turing kemudian menerbitkan sebuah paper ilmiah yang berjudul 'Computing Machinery and Intelligence'. Dalam tulisannya itu dia mengajukan sebuah metode apakah sebuah mesin juga memiliki 'Artificial Intelligence' layaknya otak manusia yang kemudian usulannya tersebut dikenal dengan nama 'Tes Turing'.

Selama hidupnya, Turing berusaha keras agar mesin ciptaannya yaitu Mesin Turing dapat menjadi mesin komputer otomatis di National Physical Laboratory namun sayangnya hal tersebut nggak pernah tercapai. Ia kemudian pindah ke University of Manchester dan kemudian disana ia membuat panduan untuk mesin komputer otomatis MADAM (Manchester Automatic Digital Machine).

Akhir Hidup dan Bagaimana Alan Turing Dikenang (1952 - 1954)

Kemudian di 1954, Alan Turing mendapatkan masalah. Ia ditangkap polisi setempat dengan tuduhan melakukan hubungan seksual dengan seorang pemuda dimana hal tersebut dilarang di Inggris. Turing kemudian dihukum dengan perawatan kimia -yang artinya mengebirinya secara kimiawi, dengan disuntik estrogen dengan tujuan menetralisasi hormonnya sebagai alternatif pemenjaraan. Kala itu diyakini hormon wanita sanggup menekan nafsu homoseksual. Tapi hormon yg sama juga menumbuhkan ciri-ciri fisik wanita sehingga ia jadi stres berat.

Akibat peristiwa tersebut, reputasinya menjadi hancur. Ia kemudian kehilangan pekerjaannya setelah banyaknya tekanan dari publik sebab diketahui sebagai seorang homoseksual. Tekanan yang terus menerus dari publik membuat Turing kemudian memutuskan untuk bunuh diri dengan memakan apel yang mengandung racun sianida di rumah yang berada di wilayah Wislow, Inggris pada tanggal 7 juni 1954.

Kelakuannya sebagai homoseksual membuat kerajaan Inggris tidak memberikan pengampunan meskipun reputasinya sebagai pahlawan perang dan seorang ilmuwan yang terkenal di Inggris. Baru pada tahun 2013, Ratu Elizabeth mengampuni dirinya setelah kematiannya 60 tahun yang lalu. Terlepas dari prilaku Alan Turing, sampai saat ini ia dikenal sebagai tokoh penting dalam perkembangan komputer digital dan ilmu komputer sehingga ia dijuluki sebagai 'Bapak Ilmu Komputer'.

"We can see a short distance ahead, but we can see plenty there that needs to be done." -Alan Turing.


---------------------------------
Itulah sepenggal kisah tentang Alan Turing. Semoga kehidupan dan perjuangannya bisa menjadi sumber inspirasi bagi kalian semua. Bagi gue pribadi, terlepas dari dia yang memiliki kelainan seksual, Alan Turing adalah sosok teladan yang paling unik. Dengan passion yang dia punya, ketertarikan yang mendalam tentang matematika dan sains, bisa menjadikan dia pahlawan perang dengan latar belakang yang dia miliki. Dan gue juga belajar untuk lebih objektif dalam menilai seseorang, bukan hanya menilai dari satu sisi saja, tapi harus juga menjamah sisi lainnya yang bisa jadi kita mendapat banyak pembelajaran lebih banyak.

Semoga semakin banyak anak muda Indonesia yang tahu, dan bisa mengambil pelajaran dari kisah hidupnya yang menarik!


JombloBackpacker#1: Destinasi Yogyakarta Anti Mainstream

Curhat Pembuka Penulis:
Selamat datang di label baru gue. WKWK
Akhirnya gue bikin label Traveling dengan tujuan pribadi kenang-kenangan siapa tau entah beberapa tahun lagi gue baca-baca blog ini dan mengenang gue pernah traveling ke mana aja. Sooo, gue mulai dari ...


Yogyakarta,
Agustus, 2016.
Perjalanan ini gue lakuin berdua bareng Irena. Kami yang traveler-abal-abal-pencari-akomodasi-murah mencari tiket yang pas dikantong untuk sampai ke tujuan. Dan akhirnya, kami memutuskan untuk naik KA Logawa dari Surabaya yang harganya sekitar RP 74. Maka dari itu kami berangkat dari Malang naek kereta ke Surabaya dulu jam 4 subuh (harga kereta Malang-Surabaya RP 10). Kereta berangkat dari pukul 10.50 dan nyampe di Stasiun Lempuyangan pukul 16.19.

Tips#1: Milih Alternatif Transportasi Termurah
Seperti yang gue lakuin, gue mencari alternatif lain jadwal kereta api. Karena nggak ada kereta ekonomi tujuan Malang-Yogyakarta, akhirnya gue nyari yang dari Surabaya, which is nggak jauh juga kalo dari Malang. Karena kalo naek kereta langsung dari Malang harganya bisa dua-kali-lipat, dan itu artinya udah dapet tiket PP.

Gambar1.(Kanan) Stasiun Kota Baru Malang Pukul 4.00 - (Kiri) Suatu Sore di Lempuyangan, Yogyakarta.

Tips#2: Numpang Temen dan Bawa Helm Sendiri
Untuk penginapan kami numpang di kost-an temen. Karena emang lumayan banyak yang kuliah di Yogyakarta, kami memanfaatkan kebaikan teman-teman serta ketulusan hatinya untuk sedikit berbagi tempat tidur. Muehehe. Dan untuk mempermudah saat jalan-jalan, kami bawa sendiri helm dari Malang. Selain nggak perlu repot-repot nyari pinjeman helm, bawa helm sendiri lebih fleksibel dan bisa dipake kapan aja.

Setelah beberes dan mandi, kami main keluar untuk cari makan dan jalan-jalan-malam.

Destinasi 1: Angringan Petruk Gareng

Karena Yogyakarta terkenal banget sama angkringannya, kami nggak melewatkan itu dan mampir ke salah satu angkringan yang cukup ramai. Lokasinya nggak jauh dari tugu Jogja (sayang banget ga foto disana karna rame banget :() Gue lupa habis berapa dulu disana. Tapi angkringan yang ini emang tergolong cukup mahal diantara angkringan lainnya sih (Gue baru tau itu setelah ke Yogyakarta untuk kedua kalinya). Oh, selain makan gue juga nyobain es dawetnya disini. Lumayan enak sih. Kalian harus coba!
Kisaran harga: RP 3-keatas.



Destinasi 2: Banyak Setan di Sepanjang Jalan Kenangan Malioboro

Kalo ini mah udah terlalu mainstream kali ya. Tapi menurut gue belum ke Yogyakarta kalo belum kesini, sih. Belum lagi disini banyak banget toko yang bisa jadi pilihan buat nyari oleh-oleh khas Yogyakarta. Tapi sayangnya gue nggak bisa foto di tulisan "Jl Malioboro"-nya :(
Rame banget asli. Sampe antri-antri.

Sambil menyusuri Jalan Malioboro yang sangat panjang, kami mampir-mampir buat liat-liat kaos, gelang, dsb. Dan ditengah jalan kita ketemu sama pengamen 'grup' yang kece baday. Mereka anggotanya banyak terus pada mainin alat musik bikinan sendiri, terus ada yang nari mas-mas berotot gitu. Sumpah keren banget deh.

Dan bagi kalian yang seneng foto-foto, diujung Jalan Malioboro ada semacam cosplay dari berbagai macam model. Ada yang jadi robot dan banyak juga yang jadi hantu. berhubung waktu itu lagi tren hantu valak, ada yang nge-cosplay-in gitu. Kalo harganya sendiri seikhlasnya aja sih.
Kisaran harga: Parkir RP 3




Destinasi 3: Keraton Yogyakarta

Hari kedua!
Berhubung temen gue yang diinepin lagi nggak bisa, jadinya gue nyari temen lain yang ngaterin ke destinasi hari ini. Kami pergi berempat dengan anggota tour kali ini gue, Irena, Adi dan Rizal.

Masuk ke Keraton Yogyakarta langsung disambut dengan pelataran yang luas banget. Terus banyak banget ruangan-ruangan yang menurut gue di kategorikan berdasarkan tema-tema yang sama. Ditengah-tengah jalan-jalan udah mulai mencar dengan ketertarikan masing-masing. Meski yah ada beberapa spot gue sempet minta tolong fotoin. HEHE

Setelah muter-muter, berhubung hari itu hari Jumat, gue nungguin kedua-temen-cowok-yang-nganterin-main untuk sholat jumat. Sambil gue sama Irena mampir di deket situ ada toko Bakpia. Meskipun gue bukan penggemar Bakpia, tapi setidaknya gue bawa sesuatu pas balik dari Yogyakarta. Biar keliatan mainnya lah.

Kisaran harga: Masuk Keraton RP 5, Parkir RP 2

Gambar2. Keraton Yogyakarta dan keceriaannya

Destinasi 4: Pre-Wedding di Tamansari

Destinasi kedua kita berempat pergi ke Tamansari!

Nothing special sih. Tapi yang membuat gue tertarik adalah kolamnya yang belum di kuras. HaHa. Warnanya ijo gitu jadi lucu buat foto. Meski panas banget sih pas gue kesitu. Tapi gue rasa worth it sih.

Gambar3. Sumpah ini kece banget ga sih?

Terus di tengah-tengah kita dikasih tau bapak-bapak ada tempat yang bagus gitu katanya. Setelah dikasih tau arahan menuju kesana, kita mulai jalan dan melewati beberapa rumah warga. Katanya sih masih satu area, tapi cuman kadang turis males pergi kesana karna terlalu jauh padahal tempatnya bagus.

Dan emang iya sih, meskipun lagi dipake buat foto pre-wedding, kita menikmati lorong-lorong yang ada. Mau foto-foto juga gelap si. HaHa.

Kisaran harga: Masuk Tamansari RP 5, Parkir RP 2

Setelah puas dengan Tamansari, kita keluar dari area dan memutuskan untuk nyari makan karna emang udah laper. Pilihan jatuh ke Ayam Geprek Susu. Atau mereka biasa menyebutnya "PrekSu".
Lumayan sih kita ngobrol-ngobrol disitu. Gue nggak terlalu kenal sama Rizal karna notabene dia adik kelas gue. Jadi ya nambah temen lah ya. Ngobrolin soal kuliah, destinasi wisata, danlainsebagainya.

Udah kenyang, kita balik lagi ke kosan temen gue buat istirahat. Setelah sebelumnya mampir Mirota buat nyari titipan kakak gue.


Destinasi 5: Taman Penuh Pelangi dan Monjali Malam Hari

Malem harinya, kami mengunjungi Taman Lampion dan Monumen Jogja Kembali (Monjali) yang letaknya berada di satu area.
Tapi sangat disayangkan sih, ternyata nggak sekeren ekspektasi gue. Lebih kayak taman bermain penuh lampion gitu. Semacam BNS tapi versi mini. Mau foto juga ga terlalu bagus kalo pake kamera HP. Jadi destinasi malam itu sedikit kurang menarik.

Monjalinya apalagi. Karena malem hari emang udah ditutup sih, jadi ya cuma bisa memandangi gedungnya dari luar aja deh. Karena emang destinasi yang ini kami nggak terlalu terarik sih. Cuma ya daripada cuma di kosan aja, yaudah kesini aja.

Kisaran harga: Taman Pelangi RP 15 (weekday) RP 20 (weekend)


Destinasi 6: Mendaki Gunung Merapi Nyampe Hutan Pinus Imogiri

Hari Terakhir!!
Huhu,
Agak sedih sih ya mengingat ini hari terakhir buat gue berada di Yogyakarta edisi kali ini.
Kami memutuskan untuk main ke Bunker Kaliadem Gunung Merapi pagi harinya, lalu lanjut ke Hutan Pinus Imogiri pas siang/sorenya.

Seru banget!
Berangkat sekitar jam 6 pagi dengan sepeda motor dan mulai naik dengan medan yang sungguh ekstrim. Ditambah, ditengah jalan turun hujan jadi sedikit nakutin buat lanjut karna jalanannya jadi licin. Akhirnya kami memutuskan untuk berenti di salah satu warung buat neduh sekalian sarapan.

Setelah dirasa bisa buat lanjut, kami memulai lagi perjalanan.
Sumpah ekstrim banget jalannya berbatu terus nanjak banget gitu.
Pas kita udah nyampe parkirannya, kita ditawarin ojek gitu buat keatas. Tapi katanya bisa juga kalo naik motor sendiri, tapi si bapak ojek jadi tour-guidenya gitu.

Terus akhirnya kita memilih untuk dianterin sama bapak ojeknya dan sekalian dijelasin tentang tragedi kematian wartawan yang terjebak di Bunker saat tragedi meletusnya Gunung Merapi.

Setelah itu kita mampir ke rumah Mbah Maridjan yang udah tinggal puing-puingnya aja. Dan disampingnya juga beliau disemayamkan.

Gambar4. Kenangan puing-puing Gunung Merapi

Setelah udah mulai capek dan siang akhirnya kita mutusin untuk turun dan balik ke Yogyakarta lagi. Gleler-gleler sebentar di kost-an sekalian mandi dan sholat dhuhur. Lalu kami memutuskan buat ke Hutan Pinus Imogiri sekitar jam 3 sore.

Dengan medan yang nggak-kalah-ekstrim, kami berjuang buat naik kesana.
Sumpah kalo hutannya biasa aja gue nyesel sih. Tapi ternyata emang worth it kok.
Aku aja pengen kesana lagi masa :(

Dan dengan berakhirnya jalan-jalan ke Hutan Pinus ini, juga jadi akhir destinasi yang kita datengin.
Kita balik ke Malang jam 8 malem dan langsung teler karna badan kerasa capek.

Kali ini kami naik kereta langsung dari Yogyakarta ke Malang, Malioboro Express. Karena emang nggak ada jadwal yang match kalo harus ke Surabaya dulu kalo baliknya. Harganya kita dapet yang paling murah RP 140.

Tapi emang kenangan banget sih Yogyakarta.
Nggak tau kenapa kota ini bikin rindu dan candu.
Semoga ada kesempatan buat kesini lagi, ya.
Amin.


_______

Oiya,
Gue juga bikin Travel Video Story pas lagi di Yogyakarta kemaren.
Bisa dilihat disini guys!


PS:
Ini gue ngerasa nulisnya kurang menarik ya. WKWK
Gue harus lebih banyak belajar bikin Travel Story sepertinya.
Wish me learn as soon as posible!


My Blog List

My Blog List